Pages

Senin, 04 November 2013

Tips Jitu Menabung untuk Travelling

“Darimana uangnya?”, “Enggak punya uang ah”. Jawaban-jawaban seperti itulah yang kurang lebih muncul saat ada ajakan untuk mempersiapkan diri melancong ke luar negeri.

Memang, selain ketersediaan waktu, uang adalah faktor yang paling menentukan dalam mewujudkan mimpin melakukan perjalanan wisata. 

Nah, Sama dengan impian atau cita–cita lainnya, melancong juga harus diusahakan dan membutuhkan perjuangan yang tidak ringan. Salah satu perjuangan yang harus dipersiapkan adalah: menabung. 

Tidak memerlukan pemikiran yang rumit untuk menabung demi melancong atau jalan–jalan. Tapi, darimana uangnya? Ya, tentu dari penghasilan kita sendiri. 

Menabung mata uang asing 

Karena mata uang yang paling "laku" di dunia ini adalah dollar Amerika Serikat, maka cara menyimpan uang yang paling efektif untuk melancong adalah dalam mata uang tersebut. 

Tiap negara memang memiliki aturan sendiri tentang Dollar AS. Di Indonesia termasuk yang paling rewel, tidak boleh lecek, rusak, noda, dan makin besar pecahannya akan semakin berharga. 

Tidak di negara lain, bahkan di negara-negara Asia. Mereka tetap mau menerima pecahan dollar berapapun, dan kondisi apapun, kecuali sobek parah tentunya. Nilai tukarnya sama, tak beda antara uang mulus dan uang kusam. 

Uang dollar yang kita miliki tak harus kita simpan di bank. Kita bisa menukar sisa atau tabungan rupiah yang kita miliki tiap minggu atau tiap bulannya ke dalam pecahan dollar dengan jumlah dan pecahan berapa pun. 

Kadang kita mengecilkan uang yang kita miliki, padahal dengan uang yang sedikit itu, kita sudah bisa melihat keindahan dunia. Coba bayangkan, apa arti Rp 100 ribu untuk sehari–hari. Apalagi di kota besar macam Jakarta. Uang sebesar itu hanya habis untuk sekali dua kali makan dan minum di mal.

Sesungguhnya, Rp 100 ribu senilai dengan sekitar 10 dollar AS sama dengan harga tiket bus dari Ho Chi Minh, Vietnam ke Pnompenh, Kamboja. Artinya, uang yang kita anggap nilainya biasa saja ternyata bisa membawa kita ke dua negara, Vietnam dan Kamboja. 

Selain dollar AS, Euro dan Poundsterling juga merupakan mata uang yang seksi untuk disimpan, karena laku di banyak negara. Kecuali, jika sudah tahu negara atau tempat tujuan, kita bisa langsung membeli mata uang negara yang dituju.  

Menabung tidak harus uang   

Menabung untuk melancong atau traveling tidak harus uang. Kita bisa menyimpang kebutuhan saat di perjalanan dengan cara mencicil. Misalnya, bulan pertama mengeluarkan uang untuk beli tiket perjalanan, bulan kedua untuk  booking hotel/guesthouse, ketiga untuk beli perlengkapan perjalanan, bulan–bulan selanjutnya bisa menabung uang tunai sebagai biaya selama perjalanan. 

Menabung juga terkait dengan waktu. Semakin banyak tenggang waktu semakin besar jumlah uang yang bisa ditabung. Banyaknya waktu yang tersisa juga membuka kesempatan lebih besar mendapatkan promo atau diskon yang ditawarkan perusahaan penerbangan dan hotel.

Setidaknya, enam bulan adalah waktu yang lebih dari cukup untuk mendapatkan tiket promo penerbangan dan penginapan. Bisa juga sambil mencari tawaran promo atau diskon tempat wisata macam wahana bermain, tempat belanja, dan lokasi sejenisnya. 

Rekening tabungan terpisah 

Namanya uang, kalau ada di depan mata pasti panas untuk digunakan. Penyelesaiannya adalah dengan membuka rekening tabungan terpisah dari rekening tabungan untuk kebutuhan sehari–hari. 

Selain untuk menabung, ATM-nya juga bisa berguna untuk tarik tunai saat di perjalanan, termasuk di luar negeri. Penggunaan ATM saat di perjalanan, juga cara aman untuk menyimpan uang. 

Berbagai bank nasional memberikan layanan tarik tunai di luar negeri. Memang ada biaya administrasi setiap tarik tunai, rata–rata Rp 25.000 –Rp 50.000 sekali tarik tunai.  Harus diwaspadai, ada beberapa negara yang rentan kejahatan kartu plastik semacam ini, ada baiknya berkonsultasi dengan pihak bank. 
 

Jangan utang untuk liburan 

Adalah tabu berhutang untuk jalan-jalan. Termasuk utang dengan kartu kredit. Berutang tidak akan membuat perjalanan menjadi menyenangkan malah justru menyiksa. Beban membayar utang saat pulang akan membuat keuangan pribadi anda menjadi tidak sehat. 

Kalaupun harus menggunakan kartu kredit, setidaknya sejumlah yang masih mampu dilunasi dua-tiga kali pembayaran tiap bulannya.  Jangan sampai sepulang dari jalan–jalan, masih harus membayar utang selama enam bulan sampai Satu tahun. 

Dan, tips terakhir adalah, penting untuk mementukan tujuan dan lama perjalanan sesuai kemampuan.  Jangan memaksakan diri berlibur ke tempat yang mahal hanya untuk bergaya atau maksud pamer dengan lingkungan. kompas.com

Rabu, 03 Juli 2013

PROMO EVERYDAY SMART HOTEL *2 PERIOD 7 JULY - 6 AUG 2013





PROMO EVERYDAY SMART HOTEL *2,
PERIOD 7 JULY - 6 AUG 2013

ONLY 550 K MINIMAL STAY 2 NIGHTS INCLUDE BREAKFAST
FIRST COME , FIRST SERVICE...
CONTACT ME FOR BOOKING

Senin, 06 Mei 2013

{{ Sekolah di Jepang VS Sekolah di Indonesia }}

Anak saya bersekolah di salah satu Sekolah Dasar Negeri (SDN) kota Tokyo, Jepang. Pekan lalu, saya diundang untuk menghadiri acara “open school” di sekolah tersebut. Kalau di Indonesia, sekolah ini mungkin seperti SD Negeri yang banyak tersebar di pelosok nusantara. Biaya sekolahnya gratis dan lokasinya di sekitar perumahan.

Pada kesempatan itu, orang tua diajak melihat bagaimana anak-anak di Jepang belajar. Kami diperbolehkan masuk ke dalam kelas, dan melihat proses belajar mengajar mereka. Saya bersemangat untuk hadir, karena saya meyakini bahwa kemajuan suatu bangsa tidak bisa dilepaskan dari bagaimana bangsa tersebut mendidik anak-anaknya.

Melihat bagaimana ketangguhan masyarakat Jepang saat gempa bumi lalu, bagaimana mereka tetap memerhatikan kepentingan orang lain di saat kritis, dan bagaimana mereka memelihara keteraturan dalam berbagai aspek kehidupan, tidaklah mungkin terjadi tanpa ada kesengajaan. Fenomena itu bukan sesuatu yang terjadi “by default”, namun pastilah “by design”. Ada satu proses pembelajaran dan pembentukan karakter yang dilakukan terus menerus di masyarakat.

Dan saat saya melihat bagaimana anak-anak SD di Jepang, proses pembelajaran itu terlihat nyata. Fokus pendidikan dasar di sekolah Jepang lebih menitikberatkan pada pentingnya “Moral”. Moral menjadi fondasi yang ditanamkan “secara sengaja” pada anak-anak di Jepang. Ada satu mata pelajaran khusus yang mengajarkan anak tentang moral. Namun nilai moral diserap pada seluruh mata pelajaran dan kehidupan.

Sejak masa lampau, tiga agama utama di Jepang, Shinto, Buddha, dan Confusianisme, serta spirit samurai dan bushido, memberi landasan bagi pembentukan moral bangsa Jepang. Filosofi yang diajarkan adalah bagaimana menaklukan diri sendiri demi kepentingan yang lebih luas. Dan filosofi ini sangat memengaruhi serta menjadi inti dari sistem nilai di Jepang.
Anak-anak diajarkan untuk memiliki harga diri, rasa malu, dan jujur. Mereka juga dididik untuk menghargai sistem nilai, bukan materi atau harta.

Di sekolah dasar, anak-anak diajarkan sistem nilai moral melalui empat aspek, yaitu Menghargai Diri Sendiri (Regarding Self), Menghargai Orang Lain (Relation to Others), Menghargai Lingkungan dan Keindahan (Relation to Nature & the Sublime), serta menghargai kelompok dan komunitas (Relation to Group & Society). Keempatnya diajarkan dan ditanamkan pada setiap anak sehingga membentuk perilaku mereka.
Pendidikan di SD Jepang selalu menanamkan pada anak-anak bahwa hidup tidak bisa semaunya sendiri, terutama dalam bermasyarakat. Mereka perlu memerhatikan orang lain, lingkungan, dan kelompok sosial. Tak heran kalau kita melihat dalam realitanya, masyarakat di Jepang saling menghargai. Di kendaraan umum, jalan raya, maupun bermasyarakat, mereka saling memperhatikan kepentingan orang lain. Rupanya hal ini telah ditanamkan sejak mereka berada di tingkat pendidikan dasar.

Empat kali dalam seminggu, anak saya kebagian melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Ia harus membersihkan dan menyikat WC, menyapu dapur, dan mengepel lantai. Setiap anak di Jepang, tanpa kecuali, harus melakukan pekerjaan-pekerjaan itu. Akibatnya mereka bisa lebih mandiri dan menghormati orang lain.
Kebersahajaan juga diajarkan dan ditanamkan pada anak-anak sejak dini. Nilai moral jauh lebih penting dari nilai materi. Mereka hampir tidak pernah menunjukkan atau bicara tentang materi.
Anak-anak di SD Jepang tidak ada yang membawa handphone, ataupun barang berharga. Berbicara tentang materi adalah hal yang memalukan dan dianggap rendah di Jepang.
Keselarasan antara pendidikan di sekolah dengan nilai-nilai yang ditanamkan di rumah dan masyarakat juga penting. Apabila anak di sekolah membersihkan WC, maka otomatis itu juga dikerjakan di rumah. Apabila anak di sekolah bersahaja, maka orang tua di rumah juga mencontohkan kebersahajaan. Hal ini menjadikan moral lebih mudah tertanam dan terpateri di anak.
Dengan kata lain, orang tua tidak “membongkar” apa yang diajarkan di sekolah oleh guru. Mereka justru mempertajam nilai-nilai itu dalam keseharian sang anak.

Saat makan siang tiba, anak-anak merapikan meja untuk digunakan makan siang bersama di kelas. Yang mengagetkan saya adalah, makan siang itu dilayani oleh mereka sendiri secara bergiliran. Beberapa anak pergi ke dapur umum sekolah untuk mengambil trolley makanan dan minuman. Kemudian mereka melayani teman-temannya dengan mengambilkan makanan dan menyajikan minuman.
Hal seperti ini menanamkan nilai pada anak tentang pentingnya melayani orang lain. Saya yakin, apabila anak-anak terbiasa melayani, sekiranya nanti menjadi pejabat publik, pasti nalurinya melayani masyarakat, bukan malah minta dilayani.

Saya sendiri bukan seorang ahli pendidikan ataupun seorang pendidik. Namun sebagai orang tua yang kemarin kebetulan melihat sistem pendidikan dasar di SD Negeri Jepang, saya tercenung. Mata pelajaran yang menurut saya “berat” dan kerap di-“paksa” harus hafal di SD kita, tidak terlihat di sini. Satu-satunya hafalan yang saya pikir cukup berat hanyalah huruf Kanji.
Sementara, selebihnya adalah penanaman nilai.

Besarnya kekuatan industri Jepang, majunya perekonomian, teknologi canggih, hanyalah ujung yang terlihat dari negeri Jepang. Di balik itu semua ada sebuah perjuangan panjang dalam membentuk budaya dan karakter. Ibarat pohon besar yang dahan dan rantingnya banyak, asalnya tetap dari satu petak akar. Dan akar itu, saya pikir adalah pendidikan dasar.
Sistem pendidikan Jepang seperti di atas tadi, berlaku seragam di seluruh sekolah. Apa yang ditanamkan, apa yang diajarkan, merata di semua sekolah hingga pelosok negeri. Mungkin di negeri kita banyak juga sekolah yang mengajarkan pembentukan karakter. Ada sekolah mahal yang bagus. Namun selama dilakukan terpisah-terpisah, bukan sebagai sistem nasional, anak akan mengalami kebingungan dalam kehidupan nyata. Apalagi kalau sekolah mahal sudah menjadi bagian dari mencari gengsi, maka satu nilai moral sudah berkurang di sana.
Di Jepang, masalah pendidikan ditangani oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olah Raga, dan Ilmu Pengetahuan Jepang (MEXT) atau disebut dengan Monkasho. Pemerintah Jepang mensentralisir pendidikan dan mengatur proses didik anak-anak di Jepang. MEXT menyadari bahwa pendidikan tak dapat dipisahkan dari kebudayaan, karena dalam proses pendidikan, anak diajarkan budaya dan nilai-nilai moral.

Mudah-mudahan dikeluarkannya kata “Budaya” dari Departemen “Pendidikan dan Kebudayaan” sehingga “hanya” menjadi Departemen “Pendidikan Nasional” di negeri kita, bukan berarti bahwa pendidikan kita mulai melupakan “Budaya”, yang di dalamnya mencakup moral dan budi pekerti.
Hakikat pendidikan dasar adalah juga membentuk budaya, moral, dan budi pekerti, bukan sekedar menjadikan anak-anak kita pintar dan otaknya menguasai ilmu teknologi. Apabila halnya demikian, kita tak perlu heran kalau masih melihat banyak orang pintar dan otaknya cerdas, namun miskin moral dan budi pekerti. Mungkin kita terlewat untuk menginternalisasi nilai-nilai moral saat SD dulu. Mungkin waktu kita saat itu tersita untuk menghafal ilmu-ilmu “penting” lainnya.

Demikian sekedar catatan saya dari menghadiri pertemuan orang tua di SD Jepang.
Strawberry